Radikal Slogan Gagal : Dirancang Tanpa Akal, Dihembuskan Serampangan, Dituduhkan Salah Sasaran


Aab Elkarimi


Oleh: Aab Elkarimi

Mujahid 212 - Seiring waktu berjalan, radikal sering keluar dari mulut oleh orang yang berperut lapar. Istilah ini dihembuskan lewat buzzer politik dan diamini cebong milenial. Meski bisa dipastikan ada saja beberapa narasi panjang ilmiyah menyertainya. Dipropagandakan lewat survey LSM liberal dan dipublish dengan media cita rasa barat.

Lebih jauh dipikirkan, makna radikal di lapangan seolah mengkristal pada stigma non partisan. Pihak lawan politik yang akan mengancam suara 2019 mendatang. Umat Islam lebih tepatnya. Aksi 212 sebagai momen sakralnya.

Namun entah apa yang ada di sekeliling penguasa, para pembisik dan eksekutor lapangan. Tercatat Ustadz Abdul Somad dihajar juga. Sebelumnya Gus Nur, Felix Siauw telah lama jadi bulan-bulanan. Lewat alat pukul ormas pembubar, pihak rejim membuat lapangan duel untuk umat Islam saling baku hantam.

Indikator radikal

Meminjam sentilan nakal ala Prof. Fahmi Amhar tentang radikal yang benar-benar terjadi di lapangan, beliau menuliskan dalam sebuah status facebook yang menohok:

CIRI-CIRI RADIKAL ALA NEGERI KOPLAK

1. Memilih pemimpin yang seagama
2. Menolak pernikahan beda agama
3. Tidak mengucapkan selamat hari agama lain
4. Suka mengenakan pakaian khas agama
5. Hanya makan yang dihalalkan agamanya
6. Menolak transaksi terkait riba
7. Setuju penerapan syariat Islam atas LGBT
8. Bersikap positif pada Sejarah Khilafah
9. Menolak penjajahan Israel di Palestina
10. Menolak intervensi AS di Irak & Afghanistan

Coba skor Anda berapa?
Skor >= 7 ditolak masuk Hongkong
Skor >= 5 didiskualifikasi dalam seleksi pejabat
Skor >= 3 dibatalkan jadwal mengisi kajian
Skor >= 1 terindikasi radikal

Maka sejatinya teori-teori dalam ruang kelas dengan penafsiran khas ala rezim panik, telah sepatutnya membuat istilah radikal ini kita posisikan letaknya sebagai alat stempel bagi pihak yang kontra rezim saja. Tidak perlu dibuat pusing, apalagi ditakutin.

Para Mubaligh yang Tertuduh

Karena radikal, penjegalan dan pembubaran menjadi warna baru di belantara dunia dakwah. Persekusi, pembatalan kajian, pelarangan kunjungan ceramah keluar negeri menjadi santapan mantap para da'i. Mereka sedang diuji untuk naik derajat.

Para mubaligh yang sudah gayeng dengan persekusi tetap mampu tersenyum rapi. Mereka tulus untuk menyampaikan Islam pada umat, memperbaiki moral yang rusak, dan memang inilah tantangan dakwah. Secara sunnatullah akan selalu dibenci oleh orang-orang sinis. Dalam istilah pembendaharaan kata agama sering disebut munafik (meski harus lebih hati-hati juga).

Maka dari sini saat komplotan cebong mengambil TOA untuk nyaring bersuara, maka sikap kita tutup telinga dan hiraukan saja. Meski tidak boleh menyebut mereka orang gila, namun perlakuan kita sudah sepatutnya biasa saja. []




loading...