Menjelang Peringatan Hari Pahlawan dan Umat Islam yang Hanya Disisakan Tangisan


Menjelang Peringatan Hari Pahlawan dan Umat Islam yang Hanya Disisakan Tangisan


Mujahid 212 - Hari Pahlawan yang selalu dirayakan pada tanggal 10 November setiap tahunnya adalah untuk memperingati Pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945, di mana para tentara dan milisi indonesia yang pro-kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda dengan semangat Takbir lewat komando Bung Tomo. Makanya istilah Hari Pahlawan ini tidak bisa lepas dari nama Resolusi Jihad.

Gelegar bom dan desing peluru pada saat itu adalah pemandangan yang biasa. Dan umat Islam tetap terjaga ghirahnya lewat pekikan-pekikan keras Allahuakbar!.

Allahuakbar!

Saat kalimat agung itu masih merasuk pada jiwa yang berkobar, maka terbirit-biritlah musuh.
Saat kalimat agung itu terlantun dengan tulus pada jiwa-jiwa pemberani, maka siapa saja yang menghalangi akan tergerus dan musnah.
Saat kalimat agung itu belum dikrimialisasi....
Saat kalimat agung itu belum dijadikan candaan oleh kaum liberal...

Disaat itulah kekuatan umat Islam nyata dan benar.

Namun pemandangan soal semangat dan kekuatan umat Islam hari ini seakan sebuah ilusi. Hanya pilu yang tersisa saat melihat jutaan umat ini tercecer dan saling baku hantam. Adanya para provokator yang dengan ikhlas bekerja memecah belah dengan gagasan liberal, toleran dan penafsir tunggal Pancasila merupakan biang yang menjadi ranjau.

Mungkin ABI 212 telah menjadi awalan dari episode Perjuangan baru di era modern. Saat seruan kebersatuan mengkristal dalam wujud nyata bersatunya ormas Islam. Spirit ini kembali menyerukan tentang suatu semangat yang dimatikan. Sebuah tragedi besar saat Kasman benar-benar menyesali penghapusan tujuh kata di Piagam Jakarta. Saat Ki Bagus Hadikusumo menanti panjangan janji manis Soekarno hingga Ia berpulang.

Mr. Kasman Singodimedjo kemudian menagih janji tersebut 12 tahun kemudian!. Ditengah persidangan, ia berpidato dengan lantangnya, mengingatkan janji tersebut, “…Saudara Ketua, kini juru bicara Islam Ki Bagus Hadikusumo itu telah meinggalkan kita untuk selama-lamanya, karena telah pulang ke Rakhmatullah. Beliau telah menanti dengan sabarnya, bukan menanti 6 bulan seperti yang telah dijanjikan kepadanya. Beliau menanti, ya menanti sampai wafatnya. Beliau kini tidak dapat lagi ikut serta dalam Dewan Konstituante ini untuk memasukkan materi Islam, ke dalam Undang-Undang Dasar yang kita hadapi sekarang ini.”

Pidatonya semakin menajam tentang janji itu, tatkala ia mengatakan, “…Saudara ketua, secara kategoris saya ingin tanya, saudara Ketua, dimana lagi jika tidak di Dewan Konstituante yang terhormat ini, Saudara Ketua, di manakah kami golongan Islam dapat menuntut penunaian ‘Janji’ tadi itu? Di mana lagi tempatnya?”

Perdebatan yang hanya sisakan pahit dan tidak pernah mengakomodir umat Islam ini tertuang dalam risalah sidang Konstituante 1957, Hingga Ulama besar Buya Hamka pun murka,

"sungguh saudara ketua, Pancasila itu belum pernah dan tidak pernah dikenal, tidak populer dan belum pernah terdengar! ... Dan api yang nyala di dalam dada ini sampai sekarang, saudara ketua, bukanlah Pancasila, tetapi Allahu Akbar!"

"jika saya tanyakan pada hati ini, kepada salah seorang pembela Pancasila, apakah yang terasa dalam hatinya ketika putranya yang dicintai tewas dan diantarkannya ke pusara, Pancasila-kah atau Allahu Akbar? Niscaya dia akan menjawab: 'Allahu Akbar!'"

Dan yang terjadi saat ini, saat gagasan umat Islam yang merupakan bagian dari kewajiban itu tidak pernah digubris, maka hari ini pun tangisan masih menetes.

Saat Masyumi yang kemudian masih lantang menyerukan penerapan syariat Islam akhirnya dibubarkan, maka hari ini kembali terulang dengan dibubarkannya Hizbut Tahrir yang bermisi sama.

Saat dulu Buya Hamka dipenjara karena bebal dalam memegang akidah hanya untuk Islam saja, maka sekarang kembali terulang dengan kriminalisasi ulama, dan penolakan-penolakan kajian yang menggerakan para boneka.

Lalu episode baru itu telah dan sedang kita buka, maka tataplah tajam dan jangan pernah kembali terulang.

Sudah saatnya tangisan itu lepas dan terbang.

Redaksi Mujahid 212


loading...