Selamat Jalan Abah Wanto; Sang Kader Banteng yang Meninggal dalam Dekap Dakwah Syariah-Khilafah



Selamat jalan duhai pejuang, selamat jalan duhai pejuang!. Andai engkau mampu berbisik dan menceritakan perihal cita dan asa agung dari dinul Islam yang selalu engkau seru, adakah yang batil itu batil dan Islam yang selalu kau pegang adakah ia menjadi hujjah dan bekal?.

Mujahid 212 - Pembaca yang budiman, sungguh kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Ia selalu mengintai setiap saat dan siap menerkam bahkan disaat kita lalai dan tak siap. 

Lalu apa yang akan menjadi bekal kita? adakah selain Islam yang kita bawa? Saat seruan-seruan nyaring dan bersemangat tentang gagasan-gagasan marhaenis dengan bumbu sosialisme sama sekali hanya menjadi kenangan Abah Wanto selagi masa muda. Dan ia telah menanggalkan semua pakaian itu menjelang akhir hayatnya. Duhai akhir yang menjadi dambaan. Semoga khusnul khotimah.

Untuk mengenang abah Wanto, kali ini redaksi Mujahid 212 akan mengulas obituari yang semoga menjadikan inspirasi agar kita senantiasa teguh berjalan menuju ridho Allah.

ABAH RUHWANTO DAN PERTEMUANNYA DENGAN HIZBUT TAHRIR

(SEBUAH OBITUARI) 

Oleh Ahmad Nadhif

Bismillaahirrahmaanirraahiim. Namanya Ruhwanto. Saya bersahabat dengan beliau sejak 2010, hingga kematian menjemputnya, Senin dinihari 30 Oktober 2017.

Dulu, beliau sering cerita tentang masa lalunya dan bagaimana pertemuannya dengan Hizbut Tahrir. Inilah yang akan saya kisahkan, meski tidak semuanya.

Di zaman meledaknya Reformasi, beliau adalah kader militan partai merah. Pernah beliau, dengan mengenakan kaos merah partainya, menghadang ribuan rombongan partai kuning, yang di dalamnya ada Bupati karena arak-arakan itu beliau anggap salah. Padahal beliau hanya berdua dengan kakaknya. Alhasil, aksi berani itu harus dibayar dengan menginap beberapa hari di Koramil setempat.

Sebagai kader terbaik partai di daerahnya, beliau pernah dipanggil menghadap para petinggi partai di Jakarta, bahkan menginap di rumah ketua umumnya.

Hingga akhirnya muncul sebuah partai putih. Partai Islam. Nuraninya mengatakan, perjuangan partai ini lebih baik. Berjuang demi agama. Maka berlabuhlah beliau dan kakaknya di partai putih ini.

Di partai putih inilah beliau dibimbing untuk mengenal Islam lebih baik. Yang sebelumnya beliau akrab dengan dunia preman dan bahkan ilmu-ilmu hitam, berubah menjadi Islami. Alhamdulillah.

Di partai putih ini pulalah beliau pertama kali mendengar kata "ha-te", sebuah akronim yang awalnya tidak beliau pahami maksudnya. Hanya karena gurunya sering menyebut "ha-te" dengan nada minor, akhirnya beliau menyimpulkan bahwa "kita harus pandai menjaga hati. Jangan sampai hati kita kotor", hehe. 

Lambat laun, akhirnya beliau dengar pula nama "hizbut tahrir" disebutkan. Masih dengan nada minor. Kali ini beliau menyimpulkan bahwa Hizbut Tahrir itu nama orang. Dan beliau membayangkan orang tersebut sangatlah kejam, yang punya banyak centeng yang selalu siap mengawalnya. Hehe.

Hingga beliau hadir dalam sebuah ceramah. Ceramah itu memukaunya. Tentang Islam dan bagaimana memperjuangkannya. Selesai acara, dihampirinya sang pembicara. "Ajari saya Islam, Ustadz", pinta beliau.

Sang Ustadz menjawab, "Boleh, tapi jangan sendirian. Bawalah teman". 

Karena keburu pingin ngaji, sementara membayangkan nyari teman untuk ngaji itu susah, akhirnya ia terpaksa berbohong kepada seorang temannya.

"Ayo, belajar jurus," bujuknya. Maksudnya, belajar ilmu kanuragan. Sang temen dengan antusias menerima ajakan itu.

Lalu dimulailah halqah. Membaca kitab, tentu saja. Thariqul Iman dan seterusnya. Hingga beberapa kali pertemuan, temannya tadi protes, "Ini kapan belajar jurusnya? Dari kemarin teori mulu"!!

Singkat cerita, beliau istiqamah ngaji sementara temannya yang niatnya belajar jurus itu mengundurkan diri.

Waktu juga akhirnya yang membuktikan bahwa mabda Islam telah merasuk ke dalam dadanya. Akhirnya beliau pun tahu bahwa "ha te" itu bukan sekedar hati. Dan bahwa Hizbut Tahrir itu bukan nama orang, apalagi orang jahat. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai bermabda Islam dengan cita-cita mulia melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah, yang ditempuhnya dengan thariqah nubuwwah. Di sinilah pelabuhan terakhirnya.

Beliau berdakwah dengan semangat yang jauh lebih membara bahkan dibanding saat beliau masih di partai merah. Saung (gubug) tempat beliau jualan bunga disulap menjadi "Daarul Arqam", rumah penggemblengan untuk kader-kadernya. Saya menjadi saksi betapa gerakan beliau yang awalnya kecil menjadi membesar dan diperhitungkan banyak orang.

Hingga akhirnya HTI dibubarkan pemerintah. Dengan perppu, yang kemudian menjelma UU. Tapi beliau tidak berhenti berdakwah. Semangat tak pernah pudar. Bahkan saat Sidang Paripurna pengesahan UU tersebut, beliau hadir ke Jakarta meski dengan kursi roda karena serangan tetanus yang beliai derita, untuk menyampaikan kalimah haq di hadapan penguasa.

Seminggu setelah UU ini sah, beliau dipanggil Allah, dalam keadaan muslim dan sebagai pengemban mabda Islam.

Tentu saja saya sangat berduka, tapi saya tidak akan mengucapkan kalimah kesedihan, tetapi kalim

ah yang disenangi oleh Allah: Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun.

Selamat jalan, Abah. Semoga engkau dikumpulkan bersama para pejuang Agama Allah di tempat terbaik di sisiNya. Aamiin..

Kenangan Bersama Abah Wanto (Ruhwanto) Al Fatih

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna

Selama menyalatinya sampai mengantarkan ke pemakaman, sulit sekali menahan air mata ini untuk tidak mengalir. Air mata bangga, melihat jejak kematian salah satu saudara terbaik saya yang telah memilih jalan dakwah di akhir hayatnya. Air mata sedih, karena kami belum tentu mengakhiri hidup ini di jalan kemuliaan, diantar dan didoakan oleh banyak orang.

Dalam al-Qur'an surat Yasin ayat 12, Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَاقَّدُموا وَءَاثَارَهُمْ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Abah Wanto bukan hanya telah mengerjakan amalan terbaiknya, tetapi juga telah meninggalkan atsar (jejak/bekas) yang baik pula. In sya Allah.

Mengenal beliau kurang lebih sejak 14 tahun yang lalu. Banyak kenangan indah. Paling tidak dalam 6 tahun terakhir, ketika membantu memberikan arahan dakwah di Parongpong Bandung Barat. Beliau adalah seorang pekerja keras, orang yang pantang menyerah, sangat amanah, tidak mudah mengeluh, selalu riang sesulit apapun tantangan dakwah, dan mampu mengoordinasikan dakwah menjadi sangat dinamis.

Beliau adalah ayah sekaligus sahabat. Beliau menjadi pembimbing (musyrif) terbaik bagi para murid atau pelajarnya. Beliau contoh terbaik dalam pengontrolan (mutaba'ah) kegiatan dakwah. Beliau begitu dirindukan.

Beliau, semoga Allah menyayanginya, adalah pembuka dakwah di Parongpong. Abah Wanto Al Fatih adalah peletak dasar dakwah yang kian hari kian kokoh, mendapat sambutan yang luar biasa, dan menjadi panutan banyak orang.

Beliau adalah sumber inspirasi dan motivasi. Saat ada sebagian orang semangatnya mengendur, beliau tampil menjadi motivator, bukan hanya secara lisan, tetapi menunjukkan dalam perbuatan. Terakhir beliau memberikan keteladanan dalam ikut serta dalam muhasabah al-hukkam, momentum 2410, meski harus didorong di atas kursi roda.

Beliau adalah saudara dekat. Saat ada yang sakit atau ditimpa musibah, beliau pimpin pasukan bermotor untuk mengunjunginya. Menjadi sahabat yang hidup bersama mereka.

Beliau adalah pemimpin umat. Melayani mereka tanpa lelah. Tiap Idul Qurban, mengoordinir pemotongan hewan qurban dan mendistribusikannya kepada yang membutuhkan. Momen Idul Fitri, mendistribusikan zakat bagi yang berhak.

Beliau adalah ayah yang berhasil. Beliau telah melahirkan kader penerusnya. Kesatria tangguh yang tak lain adalah putranya sendiri. Topan Budi S II adalah Abah Wanto Junior. Ketika saya memeluknya, ada getaran dan aliran darah perjuangan, mewarisi ayahnya.

Beliau telah meletakan pondasi yang kokoh. Pelanjutnya tinggal meneruskan dengan lebih baik lagi. Beliau sudah mendapat tiket keutamaan. Al fadhlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadhi (keutamaan bagi yang memulai, meski yang mengikuti bisa jadi lebih baik).

Beliau telah memilih jalan dakwah di akhir hayatnya. Sedangkan orang yang ditinggalkannya belum tentu. Beliau menutup usianya dengan senyuman. Diiringi doa dan dinaungi panji/bendera tauhid, ar-rayah dan al-liwa. Berbahagialah wahai jiwa yang tenang.

Beliau telah banyak meninggalkan atsar (jejak) kebaikan. Ini semua akan menjadi amal jariyah untuk beliau. Beliau telah menemani kami sampai pintu gerbang dalam memasuki era baru dalam dakwah ini.

====
Dari saudaramu, Yuana Ryan Tresna, yang tak pasti mati dalam keadaan seperti apa, tapi pernah lancang banyak menuntut kepada beliau rahimahullahu..

Parongpong, 30 Oktober 2017


loading...