PKS, Khilafah, dan Titik Temu dengan HTI


PKS dan HTI

Semua gerakan Islam meyakini bahwa penegakan khilafah adalah penting. Demikian menurut Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Sidik.

Oleh: Farid Ma'ruf 

Mujahid 212 - Bagaimana pandangan PKS tentang khilafah? Dalam dokumen-dokumen resmi partai, bisa jadi memang tidak kita temukan. Tetapi bukan berarti tidak ada. Hal ini bisa kita ketahui dari pernyataan-pernyataan pimpinan-pimpinan PKS di beberapa forum dan tulisan.

Berikut ini kami tampilkan beberapa pandangan pimpinan PKS/kader PKS tentang khilafah :

“Islam harus diperjuangkan melalui kekuasaan, termasuk bagaimana harus memperjuangkan tegaknya sistem Khilafah" (Dadang Ruchyana, Sekretaris Umum DPD PKS Kota Bogor).

“Saya sangat setuju dengan Khilafah. Jika seluruh umat Islam bersatu, maka kita akan menjadi sangat kuat.” (H. Adih Amin, Lc., MA, anggota DPD PKS Bekasi).

Saat DPD HTI Sumut Bersilah Ukhuwah pada Oktober 2012, Ketua DSW PKS Sumut, M. Yusuf Fahmi menyampaikan bahwa Khilafah adalah harga mati, karena itu dalam perjuangan dakwah semua elemen ummat Islam harusnya menjadi pemain bukan sekedar penonton. Sedangkan Ketua DPW PKS Sumut, Muhammad Hafez, menyampaikan bahwa HTI adalah saudara kandung PKS dalam dakwah. Beliau juga menegaskan bahwa runtuhnya Khilafah sebagai kepemimpinan Islam Internasional sering dijadikan motivasi bagi kader-kader PKS dalam berdakwah. Oleh karena itu, menurut Ketua Bidang Pembangunan Ummat PKS Sumut, Surianda Lubis, kerinduan akan kebangkitan Islam adalah aspirasi ummat Islam yang merupakan lahan subur untuk tegaknya syariah.

Anis Byarwati (Ketua DPP PKS Bidang Perempuan) menyatakan bahwa Khilafah Islamiyah adalah cita-cita luhur umat Islam yang patut diperjuangkan. Dengannya semua masalah umat bisa diselesaikan tuntas dan peradaban Islam yang mulia mampu diwujudkan. Karenanya, kedua belah pihak (PKS dan MHTI) sepakat untuk sama-sama memperjuangkan Syariah Islam untuk kepentingan umat, meskipun ada perbedaan dalam masalah metode namun bisa saling memahami.

Ustadz Mulyadi, S.Pd., (mantan Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera Riau) menyatakan bahwa Demokrasi Sistem Kufur. Beliau juga menyatakan bahwa perjuangan dakwah Islam ini adalah milik Allah SWT, oleh karena itu sepatutnya menggunakan cara-cara dan manhaj yang diridhoi Allah SWT dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Pengemban dakwah jangan sampai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang mulia. Sudah saatnya kita secara terang-terangan, ikhlas dan sungguh-sungguh menyatakan urgensi penegakan syariah dan khilafah.

Khilafah dalam bahasa Imam Asy Syahid Hasan Al Banna adalah sebuah Ustadziyyatul ‘alam. Sebuah guru peradaban semesta. Kita tidak perlu lagi mengambil contoh dari peradaban barat romawi atau peradapan timur Persia. Tapi Islam lah yang menjadi sebuah peradaban besar yang akan menjadi kiblat utama dan rujukan bagi seluruh peradaban dunia. Dan sekarang tugas kita adalah bagaimana sebuah peradaban besar itu mampu terbit dan mengguncang zaman? (Ardhianto Murcahya, S.Psi).

Semua gerakan Islam meyakini bahwa penegakan khilafah adalah penting. Demikian menurut Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Sidik. “Konsep khilafah ini adalah salah satu format kepemimpinan Islam yang bersifat alamiyah (global-red). Khilafah adalah perwujudan konsep Islam yang memiliki misi rahmatan lil ‘alamin. Selain secara historis Rasulullah dan para penerusnya juga telah melakukan eksistensi dakwah tentang Islam, karena itu Islam tersebar di hampir seluruh wilayah dunia. Saya kira ini bukan hanya warisan sejarah tapi juga bagian dari prinsip alamiyah dari ajaran dan misi Islam, ” jelas Mahfudz.

PKS kini dalam tahapan Ishlahul Hukumat dari 6 tahapan IQOMATUL KHILAFAH menuju USTADZIATUL ‘ALAM (menjadi soko guru/penguasa dunia). Tahap ke enam adalah USTADZIATUL ‘ALAM menjadi soko guru dunia dengan kembali tegaknya sistem KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWAH, kekhilafahan yg berdasarkan metode kenabian. Adanya kepemimpinan (imamah/khilafah) adalah ijma kaum muslimin. Berkenaan dengan hal ini Ibnu Khaldun berkata: “Jabatan imam ini wajib ditegakkan. Kewajibannya di dalam hukum Islam dikenal sebagai ijma para sahabat dan tabi’in. Para sahabat Rasulullah, ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, bersegera memilih penggantinya dan membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah dan menyerahkan segala urusan ummat kepadanya. Demikianlah, sampai kapan pun, setelah itu, manusia tidak boleh dibiarkan kacau tanpa adanya imam. Ini menegaskan keijma’an kaum Muslimin dalam persoalan mengangkat Imam”. (PKS Sudan)


loading...