Mengapa Mayoritas Warga NU Lebih Tersinggung NU nya Disentil Daripada Islamnya?




Mujahid 212 - Seiring berjalannya waktu, organisasi masyarakat yang masih disebut-sebut sebagai organisasi terbesar ini telah memiliki banyak sayap dan agenda.

Saat ini BANSER dan GP ANSOR sebagai sayap kepemudaan NU memiliki agenda utama deradikalisasi dengan gelar tersohor yang disandangnya 'sang maestro persekusi'. Sementara PBNU di bawah komando Said Aqil Siradj tak banyak inovasi selain hanya berkutat menangkal paham radikal dan sesekali berkomentar tentang wahabi, jenggot dan celana cingkrang.

Di samping hebohnya Citra NU yang dibuat oleh dua golongan di atas, ada LAZNU, Muslimat NU, IPNU, PMII, dan lembaga lain sebagai sayap organisasi yang perannya tak dapat diragukan.


Bagaimana Citra NU yang Menjauh dari Barisan Umat Islam Terbentuk?

Di akar rumput, basis masa NU lewat lembaga Maarif dan Pondok pesantren masih diisi oleh para Kyai yang agak menjauh dari hingar bingar politik. Di dalamnya masih banyak para kyai dan habaib yang hanif. Mereka lurus namun tak tersentuh citra media. Sementara golongan muda yang narsis lewat PMII dan IPNU nyaris selalu heboh dan melipir ke barisan Oportunis pro rezim. Sehingga narsisnya yang muda-muda ini selalu dipukul rata bahwa NU bersama Bani Serbet dan para cebong medsos. Padahal sejatinya tidak.

Ini disebabkan adanya ketidak samaan fikrah antara generasi muda dan generasi tua. Tark ulur antara basis kultural dengan golongan muda yang liberal menyebabkan NU berantakan.

Di samping problematika besar ini, kultur warga NU yang begitu menghormati para Kyai juga menjadi momok dan pukulan tersendiri. Terpecahnya para kyai di tubuh NU, terlebih pasca dua priode dipimpin oleh Said Aqil Siradj, membuat warga NU bingung. Alih-alih terdidik dengan paham keislaman yang baik, yang muncul kepermukaan adalah sikap takut dan waspada dikalahkan oleh organisasai lain yang selalu diserukan dalam pengajian. Dan outputnya adalah fanatisme di tubuh NU sendiri. Hal ini semakin diperparah dengan adanya medsos dengan hiruk pikuknya.

Dari Aksi 212, FDS, hingga Bupati Lampung Selatan

Dampak besar dari hal di atas bisa kita runut disetiap tragedi besar yang terpampang di media mainstream. Saat aksi 212 ketika hampir semua elemen umat Islam dengan tegas mengecam mulut brutal Ahok, Secara lembaga, NU menghindar untuk masuk dan bergabung bersama ormas Islam yang lainnya. Bahkan beberapa tokoh PBNU mengecam Demonstrasi bersama-sama Salafy Wahabi Takfiri yang sering mereka serang. Aksi 212 menjadi momen percumbuan antara NU dan wahabi dilihat dari kesamaannya menolak demonstrasi penista Al Qur'an oleh Ormas Islam.

Kemudia berlanjut pada kebijakan Full Day School, Demonstrasi yang sejatinya ditolak, ditalak, dan dicibir, pada aksi FDS ini PBNU menginstruksikan Masa untuk turun ke jalan. Hal ini dikarenakan aset terbesar NU ada di Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, yang jika kebijakan FDS ini lahir, terancam dan bisa-bisa tewas. Pada aksi FDS ini, muncul sebuah video dari warga NU muda yang menteriaki Bunuh Muhajir Efendy. Dan ini terarsip nyata di jagat maya.

Baca Juga: NU yang Sering Menyendiri dari Barisan Umat Islam

Yang terbaru adalah Pidato Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan saat peringatan Hari Santri Nasional, Minggu, 22 Oktober 2017, menuai polemik. Dalam pidato ini Zainudin Hasan mengkritik Said Aqil Siradj yang sering berkomentar miring tentang sorban, jenggot, dan jubah yang padahal adalah pakaian dari Hadratus-Syaikh Hasyim Asy'Ari. Sontak video itu menjadi viral dan banyak melahirkan kecaman.

Nah demikianlah potret NU dalam bingkai opini viral selama satu tahun kebelakang. Redaksi Mujahid 212 memohon maaf apabila ada kesalahan data. Silakan berkomentar dan share jika bermanfaat. []








loading...