Bapak Ini Belum Siuman Kalau Demokrasi, Ekonomi, hingga Sendal Jepit Semuanya Sudah Impor




Mujahid 212 - Mengomentari berita yang dipublish kompas.com pada Sabtu (28/10) tentang Buya Syafii kiranya tak perlu terlalu dianggap serius. Pasalnya sudah bisa ditebak tendesi dari setiap lafal yang terucap, selalu membidik Islam sebagai pihak yang disalahkan dan tertuduh.

Setelah sebelumnya mati-matian membela Sang penista Ahok, usia yang sudah sepuh itu tak menyurutkannya untuk terus mendukung sabda rezim yang dimuliakannya. Seperangkat kebijakan deradikalisasi yang diagendakan dengan dana besar telah ia sambut dengan suka cita.

Padahal secara nalar, negeri yang berprinsip ideologi terbuka ini tidak layak mendapat tempat untuk ucapan seperti itu. yang ditakutkan adalah kesan menjilat ludah karena pada faktanya dari mulai sistem pemerintahan, sistem pendidikan, hingga sembako dan sendal jepit semuanya sudah impor. Bahkan tenaga kerja juga sama. Impor.

Soal kata "ideologi" sebenarnya Soekarno yang memegang Sosialisme dengan marhaenism nya juga merupakan gagasan Impor. Kalau serius dengan ucapannya, maka dia harus benar-benar menjaga konsistensi untuk menyebarkan kembali gagasan gajah mada, maja pahit, sriwijaya. Juga menahan dan tidak mengambil Islam dengan tetap mempertahankan animisme dan dinamisme sebagai kepercayaan.

Artinya, satu pertanyaan besar: Adakah saat ini yang dicontohkan pemerintah tentang gagasan asli yang tidak Impor?

Nah berikut redaksi Mujahid 212 lampirkan berita lengkapnya

Buya Syafii: Bangsa Ini Besar, Jangan sampai Ada Ideologi Impor

Tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif mengatakan, momen peringatan Hari Sumpah Pemuda harus dijadikan sebagai pengingat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar.

Dengan maraknya ideologi asing yang masuk ke Indonesia, masyarakat hendaknya tidak melupakan identitas budaya bangsa yang beragam. Sebab, tidak dipungkiri banyak ideologi asing tersebut yang mengancam kebhinekaan.

"Bangsa ini besar, jangan sampai ada ideologi impor. Jangan sampai meninggalkan identitas kita sebagai bangsa yang besar. Bangsa ini besar, jangan sampai ada ideologi impor," ujar Syafii dalam sebuah diskusi bertajuk 'Satu Dalam Bhinneka, Satu Dalam Sumpah Pemuda, Satu Indonesia,' di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta Selatan, Sabtu (28/10/2017).

Syafii mengatakan, Indonesia adalah bangsa yang plural. Berbagai suku dan agama tumbuh di tengah masyarakat.

Di sisi lain, ada kelompok-kelompok yang berupaya merusak kebhinekaan untuk kepentingan politik praktis.

"Ada kelompok yang merusak bangsa yang bhinneka untuk politik praktis. Ada ideologi yang sudah bangkrut, tetapi masih mau dibeli. Ada (kelompok) garis keras dan segala macam," ucapnya.

"Itu menurut saya mulai merusak pilar kebhinekaan kita. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu juga," kata Syafii.

Menurut Syafii, lemahnya pilar kebangsaan dari ancaman ideologi asing juga terjadi karena identitas kedaerahan saat ini mulai ditinggalkan.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu pun mengungkapkan kritiknya terhadap generasi mudah yang lupa dengan identitas kedaerahannya.

"Bahasa daerah jangan sampai mati, anak muda Jawa sudah enggak bisa bahasa Jawa. Padahal itu sangat kaya. Saya akan menangis kalau bahasa daerah mati semua," kata Buya.


loading...